
Kemarin sore ibu RT mampir ke rumah. Ahaha.. tumben. Padahal rumah kami cukup jauh lho, ada di blok belakang yang masih sunyi dan sepi. Dia datang sambil membawa celengan. “Bu joko sudah tahu?” katanya sambil menyodorkan celengan plastik berwarna merah. Lho, kok balik bertanya. Ya jelas saya belum tahu.
“ini hasil rapat bapak-bapak minggu lalu. “ Ya. Saya ingat. Undangannya ada waktu itu. Tapi suami saya nggak dateng J itulah sebabnya mengapa saya bengong di hadapan celengan itu.
Sambil tersenyum bu RT menjelaskan. “ini celengan untuk sumbangan mesjid” dan setiap rumah masing-masing akan mendapat satu. Ngisinya sih sukarela saja. Dari recehan uang belanja, uang jajan atau uang ojek, tabunglah disini. Nanti tiap bulan, ada orang yang datang untuk mengumpulkan isi celengan.
Oh.. pantas saja. Kenapa pula perut celengan ini sudah disilet sepanjang 20 cm. Lubang itu untuk mengeluarkan isi perut celengan. J Haha.. idenya keren juga. Seharusnya sih saya yang rajin mampir ke mesjid. Tapi ini, malah ‘mesjid’nya yang datang menghampiri saya. Saya jadi malu.
Nah, sekarang celengannya ada di atas tv di ruang tamu. Agar selalu terlihat dan rajin diisi tabungannya. Berjajar rapi dengan toples isi permen karet dan celengan ayam untuk tabungan kambing. Kok? Ada tabungan kambing? Hehehe.. iya. Itu untuk beli kambing. Mudah-mudahan Idul Adha tahun depan, kami sudah bisa beli seekor kambing.
BTR, hari yang superpanas. 18 November 2011, 14.13 WIB (oiya, buat yang penasaran melihat foto diatas, satu toples permen karet, isinya 125 butir, harganya Rp 23,000. Belinya pas belanja bulanan di warung grosir deket rumah)


