Pembantu pulang hari

Posted on 7:44 PM, under

Pernah denger istilah itu? Pembantu pulang hari adalah orang yang membantu pekerjaan rumah tangga. Sama seperti tugas pembantu pada umumnya. Mencuci, menyetrika, mengepel menyapu. Hanya bedanya adalah, tugasnya tidak 24 jam seperti pembantu yang hidup dan tinggal serumah dengan kita. Jam kerjanya hanya beberapa jam, waktu tidak mengikat (tapi pada umumnya pagi hari) dan pulang hari itu juga. That's why kenapa disebut pulang hari.

Tadi pagi ada pembantu pulang hari yang `nyasar` mampir ke rumah. Dia bilang kata tukang jamu, ada orang yang lagi nyari pembantu pulang hari, tapi dia nggak yakin rumah yang mana *nyengir*

Kebetulan.

Karena sebenarnya memang saya sedang butuh pembantu pulang hari.
Ada masa-masa di mana saya merasaa lelah sangat terutama setiap kami pulang jauh seminggu dua minggu atau saya sedang sibuk dengan satu atau dua project atau jika asma saya sedang kumat dan saya tak bisa berbuat banyak.

Kendalanya hanya satu : uang belanja bulanan kami tak cukup. Bisa juga sih, tapi harus mengencangkan ikat pinggang lebih erat Lagi :-)
Dan pembicaraan ini terus datang dan pergi. Bergantian. Kadang saya setuju, lalu berubah karena sebenarnya saya adalah mahluk soliter yang males banget kalau ada orang asing nongkrong di rumah. Kadang suami saya mendesak saya untuk mencari pembantu ketika melihat saya nampak `layu` dan tak bersemangat. *catat : lelah sangat* tapi juga ada saat suami saya bilang, ah... Nggak usah pakai pembantu, biar saya nanti yang akan mencuci baju dan mencabut rumput. Oh.. So sweet.

Walau pada kenyataannya jarang terwujud. :p

Hingga akhirnya bukan lalu suami saya bilang, dia sanggup memberi subsidi untuk membayar pembantu pulang hari ini.

Well no probs at all. For me, sekarang saya akan punya banyak waktu untuk me time.

"Berapa?" Tanya suami saya begitu saya kembali ke dalam rumah
"Empat ratus" sahut saya.
"Ooo.."
"Jobdesknya?"
"Dia bilang nyapu, ngepel, nyetrika."
"Nyuci-nya?"
"Enggak termasuk. Soalnya yang nyuci yang punya rumah. Kan pake mesin... Hehehe"

Kami berdua nyengir.

Sepertinya pembicaraan untuk mencari pembantu pulang hari itu kami peti es kan dulu deh. Rasanya terlalu mahal. Kalau hanya itu yang dikerjakan, saya juga masih sanggup.

Yaah.. Walau kadang-kadang tak sempurna. We'll find a way lah...

(Imlek, hujan, 10.42 wib ditengah bunyi hujan dan berisik rumah belakang yang sedang renov, mpus-mpus? Tedoor semua lah yaaaw)


edit post

Tragedi faisal, tragedi kita semua

Posted on 7:48 PM, under

Sudah baca berita hari ini? Yah.. Diantara berita banjir, pohon tumbang dan tanah longsor, ada satu berita kecelakaan. Semalam jam 23.00 Faisal menjemput istrinya yang hamil 7 bulan dari tempat istrinya bekerja di Casablanca. Motor yang dikendarainya ditabrak mobil dari arah berlawanan.

Naah.. Faisalnya sendiri luka dan di bawa ke rumah sakit, tapi yang memilukan adalah istrinya yang jatuh dari jalan layang non tol yang menuju tanah abang dan meninggal saat itu juga.

Ya, saat itu motornya memang sedang berada di jalan layang itu. 

Lho? Bukannya kecelakaan kendaraan motor seperti ini sudah biasa terjadi?

Iya. Betul sekali. Tapi bukan itu yang mengganggu benak saya. Yang saya sesali adalah kejadian ini terjadi akibat Faisal yang tidak disiplin, menganggap enteng dan melanggar peraturan.

Pertama : motornya memasuki jalan layang non tol yang dikhususkan bagi kendaraan roda empat
Kedua : sengaja putar balik karena ada razia kendaraan bermotor di ujung jalan
ketiga : (dan ini yang paling bodoh saya kira) melawan arus

Dia pikir siapa ? Superman?

Nah, gara-gara Faisal ini saya jadi ingat perilaku pengendara motor di sekitar tempat tinggal saya. Komplek perumahan saya tinggal ini cukup luas. Sedemikian luasnya hingga harus dibagi kedalam puluhan blok.

Ada satu jalan utama yang menjadi induk dari blok-blok perumahan tadi di kanan kirinya.  Karena jalan besar, maka dibuatlah beberapa titik sebagai tempat untuk belok kanan atau putar balik.

Tapi yang sering terjadi adalah beberapa motor *dan satu dua mobil* yang berjalan melawan arus. Alasannya hanya karena malas memutar karena putaran jalannya terlalu jauh.

Itu juga belum termasuk  `dosa besar` karena tidak memakai helm, membonceng lebih dari 3 orang, membawa motor sambil memangku bayi atau anak balita atau membiarkan bocah ingusan *yang kakinya saja belum bisa menginjak pedal gas* membawa motor orang tuanya.

So? Apa harus mati dulu baru mendapat pelajaran berharga?

Maka, yuk mulai dari dari kita sendiri deh. Mari kita sama-sama berjanji, mulai hari ini, detik ini, saat ini, akan selalu menaati peraturan. Disiplin dan tidak selalu menganggap enteng. Dan buat bapak-bapak dan ibu polantas, kalau bertemu dengan kasus seperti itu mohon langsung saja ditilang. Tiada maaf bagimu deh kalo yang melanggar lalu lintas mulai berkelit ini itu.

Kalau kata Mario Teguh sih, penyesalan memang selalu datang terlambat, kalau datang duluan namanya pendaftaran.

Haha,.. Salem super!!!

(BTR 28 januari 2014. 11.34 wib. Edisi batal ke ibukota. Huhu... Maaf ya lil bro)


edit post

Anggrek dua belas

Posted on 12:21 PM, under

Sejak minggu lalu, saya resmi menjadi anggota PKK. Kalau dipikir sih lucu juga. Seumur hidup saya, baru kali ini saya tergabung dalam kelompok PKK. Ngomong-ngomong, ada yang tahu nggak singkatan PKK itu? *berpikir keras*

Anyway, walau pada awalnya saya ragu ketika ditodong mama Salsa *yang rumahnya ada di belakang rumah kami* untuk mengisi lima lembar formulir untuk diisi.

Saya kan makhluk autis, nggak gaul dan juga bukan selebritis. Bagaimana kalau mereka tahu kalau sebenarnya saya adalah seorang agen rahasia? Wkwkwkwk... Tapi jujur, males banget mengisi formulir isian yang pertanyaannya super duper kepo itu. Pengen tahu banget.

Contoh :

apakah air di rumah menggunakan pam atau sumur bor ?
Apakah memiliki tempat pembuangan sampah?
Apakah and a memiliki kebut obat-obatan? *gimana kalo ganja?nyengir*
Apakah anda aktif dalam kegiatan posyandu?
Aktif dalam kegiatan kerohanian?

Tapi apa daya, saya hanya manusia biasa :-) Jadi inilah saya, anggota PKK ranting anggrek 12.

Kok bisa anggrek 12 ? Kalau anggrek, mungkin karena ibu-ibu ya. Nama-nama bunga kan identik dengan wanita. Dan angka 12 rasanya merujuk pada nomor RT di mana saya tinggal.

Nah, tugas pertama saya sebagai anggota PKK adalah mengumpulkan botol plastik yang sudah tidak terpakai lagi. Nanti ada ibu-ibu yang keliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkannya. Rencananya akan dijual dan uangnya masuk ke kas Anggrek 12 lah ya.

Sungguh mulia.

Gara-gara kegiatan itu, sekarang saya jadi rajin menyimpan botol plastik bekas. Tak hanya itu, botol shampo, sabun, bungkus plastik bekas mie instan,  kopi dan susu juga saya masukkan kedalamnya. Biarlah sekalian nyebur. Sekarang semua sampah plastik saya masukkan ke dalam daftar.

Saya sediakan kantong plastik kosong dan saya gantungkan di dekat tas belanja saya di dapur. Setiap ada sampah plastik, langsung saya cemplungkan kedalamnya. Jika bungkusnya masih ada sisa gula, sabun atau kecap, yaaa.. Tinggal di siram dengan air dari keran dapur. Sederhana dan nggak menghabiskan waktu. Sampah plastik saya bersih dan tidak mengundang bau dan semut.

Sekarang saya baru tahu, kenapa dari dulu program saya untuk memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengan yang tidak bisa di daur ulang selalu gagal total.

Karena saya menganggap sampah itu barang yang tidak berharga dan harus dibuang. Terlalu rumit hingga membuat dua keranjang sampah di kolong meja dapur. Dan tak pernah disiplin untuk memilahnya.

Maka ketika pola pikirnya saya balik, bahwa sampah juga barang berharga yang bisa dijadikan duit. *hahahaha... emak-emak banget yak*
Dan dalam sekejap,  voila !!! Dua minggu saya sudah mengumpulkan dua kantong plastik besar. *walau disisi lain sedih juga karena konsumsi plastik yang kami gunakan bisa sebanyak ini*

Maka ini lah saya, anggota PKK anggrek 12. Yuuuuuk..! Mareeeeeh....

(BTR 13.25 wib, mendung hujan dan dua empus saya yang makan gaji buta. Bah!)





edit post

masih bisa posting? hahaha..

Posted on 7:00 PM, under

aneeeh...


edit post

celengan kambing

Posted on 11:26 PM, under

Kemarin sore ibu RT mampir ke rumah. Ahaha.. tumben. Padahal rumah kami cukup jauh lho, ada di blok belakang yang masih sunyi dan sepi. Dia datang sambil membawa celengan. “Bu joko sudah tahu?” katanya sambil menyodorkan celengan plastik berwarna merah. Lho, kok balik bertanya. Ya jelas saya belum tahu.


“ini hasil rapat bapak-bapak minggu lalu. “ Ya. Saya ingat. Undangannya ada waktu itu. Tapi suami saya nggak dateng J itulah sebabnya mengapa saya bengong di hadapan celengan itu.

Sambil tersenyum bu RT menjelaskan. “ini celengan untuk sumbangan mesjid” dan setiap rumah masing-masing akan mendapat satu. Ngisinya sih sukarela saja. Dari recehan uang belanja, uang jajan atau uang ojek, tabunglah disini. Nanti tiap bulan, ada orang yang datang untuk mengumpulkan isi celengan.

Oh.. pantas saja. Kenapa pula perut celengan ini sudah disilet sepanjang 20 cm. Lubang itu untuk mengeluarkan isi perut celengan. J Haha.. idenya keren juga. Seharusnya sih saya yang rajin mampir ke mesjid. Tapi ini, malah ‘mesjid’nya yang datang menghampiri saya. Saya jadi malu.

Nah, sekarang celengannya ada di atas tv di ruang tamu. Agar selalu terlihat dan rajin diisi tabungannya. Berjajar rapi dengan toples isi permen karet dan celengan ayam untuk tabungan kambing. Kok? Ada tabungan kambing? Hehehe.. iya. Itu untuk beli kambing. Mudah-mudahan Idul Adha tahun depan, kami sudah bisa beli seekor kambing.

BTR, hari yang superpanas. 18 November 2011, 14.13 WIB (oiya, buat yang penasaran melihat foto diatas, satu toples permen karet, isinya 125 butir, harganya Rp 23,000. Belinya pas belanja bulanan di warung grosir deket rumah)


edit post

poskamling DUGEM

Posted on 12:08 AM, under

“Hah? Bikin poskamling?”

‘Iya bu”

Pak RT datang menyodorkan proposal dan daftar saweran dengan nama suami saya diantaranya. Lagi-lagi ini ide Pak RT kami tercinta.

“Kan udah ada satpam komplek?” kata saya, si warga yang nggak gaul dan individualis itu.

“Yaaah.. untuk bapak-bapaknya nongkrong lah buuuuu…” sahutnya dan pergi ngeloyor.

“gggggrrrrrrhhh!!!

Duh pak RT. Saya kan cinta damai. Saya nggak suka keramaian. Wong kami pilih rumah ini karena letaknya yang mojok di ujung jalan. Hmmm... jangan-jangan ini ide kolektif dari bapak-bapak yang hobi gaul di RT kami.

Beberapa minggu kemudian.

Betul kan? Kini di ujung jalan dekat rumah kami sudah berdiri poskamling dengan dinding warna oranye, lantai keramik dan atap asbes miring 30 derajat. Oh.. jangan lupa, ada untaian lampu kelap-kelip yang menyala di malam hari. Satu kandang burung perkutut milik pak RT. Satu keran air+pompa di sudut yang lain. Dan satu lagi…..

Ada tulisan POS BHINNEKA TUNGGAL IKA di temboknya.

Kali ini saya benar-benar pingsan!


edit post

nama saya bu joko

Posted on 6:15 AM, under


Nama saya Hany. Tapi sejak saya menikah beberapa tahun lalu, nama saya mendadak hilang dari peredaran. Saya lebih dikenal dengan sebutan ibu Joko. Ya.. ya... tentu saja, suami saya bernama Joko.... :) agak pasaran sih..memang sudah nasib hahaha.... (maaf ya cintaaah!)

Dulu kami tinggal di Serpong. Tapi rumah kami jauh sekali dari tempat suami saya bekerja. Sedih saya melihatnya. Apalagi jika sudah larut malam ia tiba di depan pintu dengan wajah lelah.

Maka tahun ini kami memutuskan pindah ke Bekasi. Paling tidak sedikit mendekati kantornya. Di sebuah rumah mungil tipe 36. Di salah satu komplek perumahan yang ada disana.

Just the two of us dan kelima ekor kucing kami...wkwkwkwk...


edit post