Sejak minggu lalu, saya resmi menjadi anggota PKK. Kalau dipikir sih lucu juga. Seumur hidup saya, baru kali ini saya tergabung dalam kelompok PKK. Ngomong-ngomong, ada yang tahu nggak singkatan PKK itu? *berpikir keras*
Anyway, walau pada awalnya saya ragu ketika ditodong mama Salsa *yang rumahnya ada di belakang rumah kami* untuk mengisi lima lembar formulir untuk diisi.
Saya kan makhluk autis, nggak gaul dan juga bukan selebritis. Bagaimana kalau mereka tahu kalau sebenarnya saya adalah seorang agen rahasia? Wkwkwkwk... Tapi jujur, males banget mengisi formulir isian yang pertanyaannya super duper kepo itu. Pengen tahu banget.
Contoh :
apakah air di rumah menggunakan pam atau sumur bor ?
Apakah memiliki tempat pembuangan sampah?
Apakah and a memiliki kebut obat-obatan? *gimana kalo ganja?nyengir*
Apakah anda aktif dalam kegiatan posyandu?
Aktif dalam kegiatan kerohanian?
Tapi apa daya, saya hanya manusia biasa :-) Jadi inilah saya, anggota PKK ranting anggrek 12.
Kok bisa anggrek 12 ? Kalau anggrek, mungkin karena ibu-ibu ya. Nama-nama bunga kan identik dengan wanita. Dan angka 12 rasanya merujuk pada nomor RT di mana saya tinggal.
Nah, tugas pertama saya sebagai anggota PKK adalah mengumpulkan botol plastik yang sudah tidak terpakai lagi. Nanti ada ibu-ibu yang keliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkannya. Rencananya akan dijual dan uangnya masuk ke kas Anggrek 12 lah ya.
Sungguh mulia.
Gara-gara kegiatan itu, sekarang saya jadi rajin menyimpan botol plastik bekas. Tak hanya itu, botol shampo, sabun, bungkus plastik bekas mie instan, kopi dan susu juga saya masukkan kedalamnya. Biarlah sekalian nyebur. Sekarang semua sampah plastik saya masukkan ke dalam daftar.
Saya sediakan kantong plastik kosong dan saya gantungkan di dekat tas belanja saya di dapur. Setiap ada sampah plastik, langsung saya cemplungkan kedalamnya. Jika bungkusnya masih ada sisa gula, sabun atau kecap, yaaa.. Tinggal di siram dengan air dari keran dapur. Sederhana dan nggak menghabiskan waktu. Sampah plastik saya bersih dan tidak mengundang bau dan semut.
Sekarang saya baru tahu, kenapa dari dulu program saya untuk memisahkan sampah yang bisa didaur ulang dengan yang tidak bisa di daur ulang selalu gagal total.
Karena saya menganggap sampah itu barang yang tidak berharga dan harus dibuang. Terlalu rumit hingga membuat dua keranjang sampah di kolong meja dapur. Dan tak pernah disiplin untuk memilahnya.
Maka ketika pola pikirnya saya balik, bahwa sampah juga barang berharga yang bisa dijadikan duit. *hahahaha... emak-emak banget yak*
Dan dalam sekejap, voila !!! Dua minggu saya sudah mengumpulkan dua kantong plastik besar. *walau disisi lain sedih juga karena konsumsi plastik yang kami gunakan bisa sebanyak ini*
Maka ini lah saya, anggota PKK anggrek 12. Yuuuuuk..! Mareeeeeh....
(BTR 13.25 wib, mendung hujan dan dua empus saya yang makan gaji buta. Bah!)


